Langsung ke konten utama

Perkenalan ; Hanya Miyaa



Miya. Dia hanya tau nama itu. Yaa, bukan nama lengkap yang ia tau. Karena sengaja ku sembunyikan nama lengkap ajaib itu.
Mungkin benar apa yang pernah orang lain bilang bahwa jangan mengambil keputusan terlalalu cepat. Karena ada sesal tersembunyi di balik itu.
 
 
 
Miya, panggil saja begitu. Nama panggilan keluarga sekaligus nama panggilan yang paling aku suka. Nama yang tertera dalam selembar kertas penuh perjuangan yang mereka namai akte bukanlah Miya. Saat mereka mengetahui namaku, pikiran baik mendatangi otak mereka. Dan yang dia kenal adalah Miya, bukan yang lain.
Satu nama yang lahir dengan kelam kedunia. Tujuh huruf ajaib yang diciptakan, Tuhan persembahkan untuk insan dari ibu pejuang sejati dan bapa yang entah.
 
Miya, begitu keluarga mengenal. Lahir setelah konflik batin yang merenggut air mata seorang perempuan sejati. Tanpa adzan pertama yang terindah dari bapa yang telah menitipkan spermanya sembilan bulan yang lalu. Bukan air mata bahagia yang sesungguhnya ibu keluarkan. Pedih, panas, perih, batin ibu aku rasakan dari darahnya yang melumuri badanku waktu itu.
 
Lupakan cerita yang bakal menghabiskan tiga musim untuk menangisinya tadi.
 
Miya, begitulah nama yang kusodorkan saat seorang pemuda mengirimkan pesan singkatnya siang hari.
Harum perasaan menjalari jari-jariku waktu itu.
 
Halo, selamat siang. Perkenalkan nama saya Rizal.
Kalau ada pertanyakan silahkan tanyakan selama saya masih bisa menjawabnya.
Terima kasih, salam kenal yaa.
 
Juga begitulah aku mengetahui namanya, Rizal. Sekaligus awal dari sejatinya cinta. Pemuda 86. Perkenalan yang formal, bisa dibayangkan orang seperti apa dia.
Menunggu maghrib berkumandang, terlentanglah aku di depan televisi, memegang Nokia 5130. menerawang pemuda 86, mendata kepribadian yang menemani aliran darahnya, menebak-nebak bagai kanak-kanak menanyakan pada mama dimana barbie tinggal dan bagaimana cara dia menyisir rambut pirang panjangnya. Aku yakin aku bukan orang yang gampangan namun aku mulai terbuai oleh getaran yang ayahku tawarkan.
 
Candu mencambuk setiap menggenggam ponsel Finlandia itu. Ingin bercakpa lebih panjang dengan si pintar yang dibanggakan ayah itu. Terawanganku mengahsilakn butir keputusan yang mengendalikan cipratan jatuh cinta yang mulai menyapa. Lesu begitu saja renggas tanpa mengucap salam. Bahan bakar baru siap mengisi tanki yang nyaris mengalami kelangkaan karena harga jual psikologis yang terlalu tinggi. Menghabiskan bulan kemerdekaan dengan panjangnya lipatan senyum yang mengalahkan panjang sungai Barito.
 
Betapa aku telah jatuh cinta mentah-mentah padanya yang ayah banggakan. Belumlah jua aku mengenalnya secara fisik dan teritorial. Gambaran terlontar dari kecapan mulut ayah begitu hebat ku terima, meski sebelumnya kuacuhkan. Bagai drama remaja Playful Kiss, Itazura Na Kiss, They Kiss Again atau apapun itu namanya. Anganku sepertinya sebentar lagi mulai mengikuti skenarionya.
 
Dia itu anaknya pinter. Sering ikut lomba dan dapat uang dari sekolah. Motor yang dia beli adalah duitnya sendiri. UTS kemaren dia sendiri yang tidak remedial Fisika.
Tentang cerita yang tak gentar ayah tembakkan padaku. Tentang otak emas. Tentang prihatin yang dia miliki. Tentang banyaknya siswa yang mengaku bodoh berguru padanya, dibayar dengan pulsa. Tentang seorang laki-laki yang sedang ku candui sekarang. Tentang dia yang membuatku cengo dua tahun lamanya.
 
Mengapa hanya dari semua itu aku berani berperasaan? Aku tidak mengerti dan tolong jangan menyuruhku untuk mengerti dan mencari jawaban. Karena mungkin cinta adalah kabut perasaan yang sukar untuk menembus logika manusia bahkan sekelas Adolf Hitler. Ayah yang membanggakan pemuda 86 itu selalu on fire pabila mengisahkannya, bagai guru matematika yang mengejarkan persamaan linier dua variabel pada mereka yang haus remedial. Sudah jelas gempuran yang telah berumur setengah tahun itu, aku tersungkur haus dihadapan kisah fantastisnya. Seandainya saja takdirku benar-benar mengikuti skenario playful kiss. Seandainya saja pribadi Seung Jo sama seperti pribadi Rizal. Dimana Oh Hani adalah aku yang mendapatkannya. Seandainya saja cinta Oh Hani yang tidak mampu Seung Jo selsaikan dengan rumus-rumus yang berjejer rapih di otaknya adalah aku.
 
Miya, Rizal hanya kenal Miya. Saya yakin dia hanya mengetahui Miya. Sebab nama panjangku ia tak kenal. Miya, hanya catatan berbentuk nano dalam otak jeniusnya. Meski Rizal diotakku mampu mengusir sel-sel jahat. Rasanya dia menyeluruhi tempat yang Tuhan ciptakan dalam otakku. Aku hanya kenal Rizal. Rizal hanya mengetahui Miya.
 
Entah aku menjadi gadis dengan nomor antrean keberapa pada siswa yang mengikuti olimpiade tiga kali itu. Kerjaanku hanya menebak-nebak rupa jenius miliknya, memandangi tiga pesan singkat yang mengantarku mimpi indah dan merajut kisah di angan-angan.
 
Mengingat jejak kalimat semalam. Menyambut pagi dengan dia yang mulai mengusai hati.
Mengeringkan bekas oli yang tercecer dijalan. Membentuk remang wajanya di langit melalui satu sentuhan, cinta. Dan Rizal menyempil manis mengikuti senyum pagi yang ku sebarkan pada manusia yang sudah memberanikan diri menatap pagi. Bukan hari pertama menjadi murid sekolah menengah atas. Semangat yang berdiri malu-malu di pojok namanya mengalahkan semangat tempur angkatan perang Amerika. Kalimat apa yang melebihi bahwa sebentar saja aku sangat mencintainya. Serupa matahari yang dengan sinar indahnya mampu membangkitkan siapapun untuk menghirup udara dan merasakan pancarannya. Rizal, yang tak kusangka. Berlian yang menyempit diantara apartemen-aparteman langit ibukota, perumahan Pondok Indah, jejeran toko kelas borjuis dan hiruk pikuk jalan Ciputat. Rizal, serupa angin musim semi yang mengalir menyibak dingin salju. Serupa darah yang didonorkan pada mereka yang membutuhkan. Peneduh kegamangan seorang gadis yang menatapi senja yang hendak menghantarkan malamnya.
 
Rizal, hanya melalui pesan singkat ombak rindu itu terselsaikan. Pesan yang seringnya singkat namun melekat bagiku yang tunggal membacanya. Pesan itu akan berubah jadi panjang pabila aku tanya tentang penjelasan fisika. Panggilan, "Miya" yang teramat manis bagiku. Menjalari nadi. Melintasi kerongkongan, tulang selangka, tulang belikat dan arveoli.
Entah berapa banyak malam yang ku minta untuk dia dihadirkan dalam lelap malamku. Menyapanya melalui benang mimpi. Melihat remang wajahnya yang mampu mematahkan soal  kimia. Dari tepi mimpi saja aku sulit mendapatkan gambarannya. Rizal, pemuda 86 yang pernah dibanggakan ayah.
 
Suatu saat dulu, aku menyesalinya. Mengapa aku tidak tergiur dengan kisahmu sejak awal ayah menyajikannya. Seandainya, bisa mengenalmu lebih awal.
Dengan kesadaran yang aku miliki, aku tidak boleh berlebihan terhadapmu, mengaharapkanmu melihatku, berkhayal untuk diriku dan kamu. Namun, kisah yang ayah berikan terlalu manis untukku buang hingga aku pernah mengatakan pada seorang teman bahwa tidak masalah jika aku dijodohkan denganmu dan seandainya tidak dijodhkan bertekad untuk berjodoh denganmu. Pemalu, pemuda 86ku. Dia pemalu, persis seperti perawan sedang ditelanjangi pandangan oleh laki-laki.
Disuatu maghrib itu, entah apa yang mendorongku. Ayah, aku dan ade berjalan melewati gang yang sebetulnya tidak persis seperti gang. Lampu bohlam 15 watt yang menerangi sukses membuat kabur mata minus ini saat di depan warung kecil yang dari jauh terlihat dua orang sedang duduk, yang satu memakai topi dan yang lain adalah bapa muda berkaos coklat muda dan saat kita semakin dekat, pemuda bertopi itu berdiri tanpa kata. Ayah melempar kode bahwa dia Rizal. Topi hitam, kaos hitam, celana levis selutut dan sendal yang samar-samar ku lihat juga hitam. Mungkin dia terkejut dan segera masuk rumah saat mengetahui ayah membawa aku melewati dirinya hingga sepulang dari rumah penjual pulsa di belakang warung tadi. Rumahnya di depan samping kiri warung itu. Kontrakan ayah dan rumahnya hanya dipisahkan jajaran Rumah yang sederhana, abu-abu, memanjang. Catatan kecil dalam ingatan. Bohong! Itu tidak kecil. Oke besar. Teramat besar.
 
Aku bagai menggelembung memenuhi raya hanya dengan memikirkannya. Cerianya mengalahkan orang gila pasar Minggu. Aku mungkin autis. Sibuk dengan pikiranku tentang Rizal. Memiliki dunia sendiri, aku dan Rizal. Cukup!
Bagai embrio yang akan berubah menjadi janin dan dalam sembilan bulan akan meneriakkan salam lengkingnya pada dunia. Namun, aku tidak mau menatap keluar jika dengan menjadi embrio saja membahagiakan seluruh jagat hati yang pernah aku miliki. Pemuda 86 yang nyaris tnpa cela terjun kotak merah muda.
 
Waktu berdemo anarkis. Karena aku telah kehilangan banyak jam hanya dengan memikirkannya dan menimati panggilan manisnya. Rizal, pemuda bergelar cerdas itu telah meracuni masa SMA-ku dengan rumus persamaan kuadrat pesonanya yang sukar ku jelaskan dengan kosakata Bahasa Jerman. Rizal, pemuda bergelar cerdas dari ayahku.
 
Juni yang memilukan. Aku menyebutnya begitu. Berhubungan dengannya meski hanya dengan saling mengirim pesan. Ada hal-hal yang aku hindari. Menanyakan tentang asmara salah satunya. Tidak apa jika aku mengajukan hal paling bodoh yang anak umur 8 tahun saja bisa menjawabnya daripada harus menanyakan itu. Waktu itu, haram bagiku untuk agresif kecuali atas perintah ayah.
Tsunami air mata tumpah dibulan dengan nomor urut enam itu. Entah apa yang mendorong Rizal mengirimkan itu. Namun rasanya dia mempunyai satelit. Aku sedang terpuruk saat itu. Memojok pada dinding kamar disertai pikiran yang melawangi jangat tak karuan.
 
Semua orang mempunyai impian yang ingin dia capai dengan berbagai cara. Mereka semua berambisi dengan latarbelakang dan cerita yang berbeda. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan cita-citanya terwujud. Namun, kadang Tuhan menyediakan jalan yang lebih indah. Tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud. Kamu boleh saja berambisi dengan semangat tinggi. Namun, bukan kita yang menentukan. Jangan pernah putus asa Miya.
Tidak ada gunanya berputus asa. Jangan pernah putus asa!
 
Mungkin itu kali pertama Rizal mengirimkan teks yang panjang selain pembahasan fisika dan matematika. Dengan bodohnya aku menjawab "iyaa, aku sering kaya gitu". Bodoh!! Kenapa tidak kutanyakan dia kenapa? Sedang ada masalah apa?
Pesan itu datang saat malam Senin. Setelah ku tenangkan pikiran. Ku telisik lagi. Ternyata apa yang dikatakan ayah memang benar. Dia hendak memberi tahu. Rizal sedang risau. Dia butuh teman. Dan aku yang linglung tidak menyadarinya!
 
Kabarnya Rizal diterima di salah satu universitas berjas kuning melalui SNMPTN. Namun dia tidak membayar biaya daftar ulang dan tidak mengisi data. Dia tidak mengabarkan pada ayahnya mengenai daftar ualng tersebut. Ayahnya marah. Menangislah hati ini. Sholat isya ku lakukan agar Rizal tidak benar-benar diblack list atau kalaupun dia harus mengikuti tes tulis dia pastikan dia lulus dan dengan keyakinan 98 aku yakin dia bisa. Dia butuh teman bicara. Buka dalam hal membicarakan reaksi kimia, teori Archimedes ataupun tata nama ilmiah. Si jenius hendak memberi tanda.
 
Pesan terakhir. Dia menghilang dari peredaran baik ayahku maupun ponsel Nokia 3tahun.
Aku dan dia bagai sebuah permainan zombie. Dia sudah berkali-kali mendapat trophy sedangkan aku memasuki level dua saja ngos-ngosan. Mungkin dia juga tau ini dari cerita ayahnya. Aku memilih jurusan yang menjadi anak tiri dimasyarakat. Sejalan dengan aku yang disisihkan dari cela otaknya, kalah saing dengan rumus integral dan cosinus bersaudara.
Aku tak pernah merasa setingkat dengannya bahkan dua tingkat dengannya dalam berbicara. Namun, kelemahan Rizal mulai bisa kucium. Sayangnya, kelemahan itu kalah saing.
 
Bulan bulan setelah itu tidak banyak yang berubah denganku. Dia tetap sama. Berdiri gagah disela rumus Personal Pronomen dan Imperativ Satz. Berkembang dalam sejarah sungai Eufrat dan Tigris. Kokoh dalam kurs dan perdagangan internasional. Mengapit dalam indeks permintaan pasar. Masih berjungkat-jungkit ria di mainan SD sebelah sekolah. Masih menyapa malam bersama sinetron remaja yang sukses menjilat pemirsa bersama cerita yang sulit untuk ku telaah. Ku kabarkan dengan semangat Kartini pada mereka yang ku sebut teman bahwa aku menyukainya. Mengaguminya. Menceritakan dengan gempuran dahsyat sampai meludahi mereka aku tak menyadarinya. Wahai Rizal. Harum namamu yang kusebut rindu.
 
Dia pendiam. Si jenius yang pemalu. Aku memilih dia daripada Lee Donghae saat mereka memakai topi yang sama berwarna abu-abu. Aku seruis! Karena dia sudah menjatuhkan bom atom di hati yang merah katanya. Membuat aku tersipu malu pada burung-burung yang mengelilingi lapangan bulutangkis sepulang dari Ragunan. Tubunya yang terbalut cahaya sore mampu mengaburkan mata dan merambatkan aliran listrik ditubuh yang tak yakin aku bawa sampai dikontrakan ayah.
 
Mungkin ini benar-benar cinta buta. Mungkin aku kalah cerdik dari PSK. Mereka menawarkan diri melalui media. Langsung saling mengirim pesan dan mengirim suara-suara racun pembawa neraka.
Suatu siang dia menanyakan apakah aku mempunyai akun Facebook, saya jawab iya. Dia meminta nama akun saya, saya beri. Namun dia meninggalkan pembicaraan saat ku tanya apa nama akunnya. Rizal hanya menjawab dia mempunyai akun Facebook namun tidak memiliki Twitter. Twitter dia bilang ribet. Orang pinter mungkin tidak mempunyai twitter. Namun, menurut aku twitter tidak seribet menyelesaikan soal perpangkatan.
 
Perkenalan dan perpisahan yang terlalu dini. Aku bagai marmut yang asik menghabiskan waktu pada roda-roda kecil yang berputar. Terlalu asik menikmati cinta semu, sesemu angin shubuh yang menerjang bukit. Terus berputar dan sukar untuk mengganti rodanya. Tidak ada habisnya berperasaan padanya. Berulang dan terus seperti itu. Mungkin aku penghianat yang ulung. Mumutuskan untuk menyudahi. Namun, aku kalah. Aku menengadahkan tangan lagi saat angkutan kota menawarkan sejumput kenangannya. Mengurangi perasaan yang katanya cinta. Namun, hari berikutnya cinta itu bergerilya bagai pasukan Diponegoro dimedan perang.
 
Menerbangkan diri dalam pekatnya polusi Ibukota, memastikan bahwa dia belum memindahkan diri. Lagi-lagi terasingkan di daerah yang tak mungkin terdeteksi oleh bolpen ajaibnya. Namun, apakah dia juga mencariku? Walau hanya memikirkan dimana aku berada sekarang. Entahlah. Aku hanya menelan knalpot bus antarkota dari Stasiun Lebak Bulus.
 
Kabarnya banyak gadis yang menyukainya. Merayunya dengan bedak mahal dan parfum luar produk luar negri. Berseragam uang dan fashion terkini. Aku bukan bandingannya. Aku hanya tahi cicak yang menempel indah di telapak sepatu feminim mereka. Gadis biasa yang akan terlihat sangat biasa atau bahkan kastanya dibawah biasa bahkan saat berdampingan dengan orang lain di kota besar. Aku enggan merias diri untuk sekedar cuci muka. Cuci muka pun tidak memuaskan, tetap saja kusam.
 
Aku mempunyai  ambisi yang besar untuk mendekati Rizal. Mencuri rahasia dapur yang dia miliki hingga bisa menjadi pintar. Mengenali pribadi orang jenius sepertinya. Mempermainkan perasaan sendiri. Seperti tornado yang menhantam sebagian daerah Amerika.
Dengan satu nama, Rizal. Cukup untuk mengenang tanpa jeda.
Aku mengingat hal-hal kecil tentangnya. Tak pernah lupa dengan lirik pesan yang pernah ia kirimkan padaku. Mampu menggambarkan daerah tempat tinggalnya. Jalan-jalan mana saja yang bisa menunjukkan rumahnya. Bus dan kendaraan umum apa saja yang aku dan keluargaku tumpangi sewakt liburan dan ayahku mengontrak dikontrakan pamannya. Wajah dan nama sebagian keluarganya. Namaya kedua adiknya. Tempat biasa dia bermain sepak bola.
Andai semua pesan yang dia kirimkan tidak pernah aku hapus. Namun, memoriku masih cukup jelas mengingat setiap kata-kata itu. Gaya ketikan yang dia gunakan. Pesan yang menunjukkan kemarahan karena aku tak kunjung mengerti. Saat dia menanggapi obrolan dengan tertawa. Dan itu pertama kalinya dia mengirim pesan hahahah. Momen-momen moodbooster yang dia ciptakan diberbagai tempat. andai apa yang aku hayalkan terwujud. Andai dia dia juga ikut dalam rombongan ziarah ke Gunung Jati itu. Andai!
Aku merindukan getaran halus itu. Saat dimana dia duduk di pinggir lapangan bulutangkis. Mengenakan kaos merah, topi abu-abu, celana jean yang samar kulihat dan sandal hitam. Terbungkuk menghadap matahari sore memegangi ponsel yang tak ku ketahui produsennya. Aku mengingat percakapan yang aku dan ayahku bicarakan sekembalinya dari Ragunan.
Tahun berganti sebanyak dua kali semenjak Juni yang memilukan. Aku tetap saja tidak mengetahui nama ayahnya dan nama lengkapnya. Hanya pekerjaan ayahnya. Dan hanya Rizal yang saya tau. Satu nama pelengkapnya pernah tersampaikan oleh seorang ibu muda kepadaku. Dia bilang cari saja nama itu di Facebook namun sepertinya dia lama tidak membuka Facebook. Aku melakukannya pemirsa. Demi apa? Demi satu nama pelengkap yang menaungi perjalanan biodata dan identitasnya. Hasilnya sungguh! Sungguh tidak sesuai dengan yang digambarkan selama ini. Nama lengkap yang coba ku gabungkan dan ku obrak-abrik pemiliknya adalah mereka yang alay. Apakah Rizal diam-diam alay?
Aku pernah menjejalinya dengan pertanyaan yang berbondong-bondong memasuki kotak masuknya. Hanya ingin menyungkil sedikit tentang rahasia jeniusnya. Bagaimana dia belajar? Kapan dia belajar? Apa yang dia suka? Apa hobi yang dia suka? Bagaimana dia sekolah? Dan ratusan daftar lainnya. Sungguh aku ingin mengenal sosoknya. Jenius yang prestisuis di hati Miya yang ambisius.
Pertanyaan-pertanyaan yang sudah mempunyai daftar tunggu itu harus rela terpatahkan oleh waktu yang memisahkan jaringan rasa penasaran bahkan dalam mimpi Rizal selalu membingungkan. Diam namun kadang-kadang berekspresi meyeramkan, merindukan dan menyejukkan.
 
Rizal. Berapa kalipun ku sebut namanya. Menyanyikannya dan meneriakkannya dengan manja. Ku pastikan bahwa aku tidak mengenal apa itu bosan. Namanya sudah berteman dengan usus dua belas jari dan tulang dudukku.
Doktrin Laissez faire milik Adam Smith mungkin sedikit menggambarkannya. Karena hati umpama pasar, siapa meminta dan siapa yang menawarkan. Hingga menghasilkan keseimbangan yang mempertemukan keduanya. Sayangnya aku hanya terus meminta kenangan akan Rizal tetap menari dengan ria tanpa ada penawaran dari pemiliknya. Gadis lugu seperti apa yang sedang dia pikirkan? Seberapa sering dia melupakan teori-teori ilmu pengetahuan dan membuka mata pada gadis-gadis yang sedang menunggu angkutan kota? Apa yang dia makan dihari libur? Apa dia gemar bercerita pada buku? Sungguh aku mencandui anak pertama dari tiga bersaudara itu. Betapa ayah terlambat untuk mengentaskan aku dari perasaan abstrak ini. Sekalipun aku sudah berada di daratan, tetap saja aku masih basah kuyup tak tau kapan akan mengering.
 
(28 April 2015 17:29 WIB)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu