Miya. Dia hanya tau nama itu. Yaa, bukan nama lengkap yang ia tau. Karena sengaja ku sembunyikan nama lengkap ajaib itu.
Mungkin benar apa
yang pernah orang lain bilang bahwa jangan mengambil keputusan terlalalu cepat.
Karena ada sesal tersembunyi di balik itu.
Miya,
panggil saja begitu. Nama panggilan keluarga sekaligus nama panggilan yang
paling aku suka. Nama yang tertera dalam selembar kertas penuh perjuangan yang
mereka namai akte bukanlah Miya. Saat mereka mengetahui namaku, pikiran baik
mendatangi otak mereka. Dan yang dia kenal adalah Miya, bukan yang lain.
Satu
nama yang lahir dengan kelam kedunia. Tujuh huruf ajaib yang diciptakan, Tuhan
persembahkan untuk insan dari ibu pejuang sejati dan bapa yang entah.
Miya,
begitu keluarga mengenal. Lahir setelah konflik batin yang merenggut air mata
seorang perempuan sejati. Tanpa adzan pertama yang terindah dari bapa yang
telah menitipkan spermanya sembilan bulan yang lalu. Bukan air mata bahagia
yang sesungguhnya ibu keluarkan. Pedih, panas, perih, batin ibu aku rasakan
dari darahnya yang melumuri badanku waktu itu.
Lupakan
cerita yang bakal menghabiskan tiga musim untuk menangisinya tadi.
Miya,
begitulah nama yang kusodorkan saat seorang pemuda mengirimkan pesan singkatnya
siang hari.
Harum
perasaan menjalari jari-jariku waktu itu.
Halo, selamat siang. Perkenalkan nama saya Rizal.
Kalau ada pertanyakan silahkan tanyakan selama saya
masih bisa menjawabnya.
Terima kasih, salam kenal yaa.
Juga
begitulah aku mengetahui namanya, Rizal. Sekaligus awal dari sejatinya cinta.
Pemuda 86. Perkenalan yang formal, bisa dibayangkan orang seperti apa dia.
Menunggu
maghrib berkumandang, terlentanglah aku di depan televisi, memegang Nokia 5130.
menerawang pemuda 86, mendata kepribadian yang menemani aliran darahnya,
menebak-nebak bagai kanak-kanak menanyakan pada mama dimana barbie tinggal dan
bagaimana cara dia menyisir rambut pirang panjangnya. Aku yakin aku bukan orang
yang gampangan namun aku mulai terbuai oleh getaran yang ayahku tawarkan.
Candu
mencambuk setiap menggenggam ponsel Finlandia itu. Ingin bercakpa lebih panjang
dengan si pintar yang dibanggakan ayah itu. Terawanganku mengahsilakn butir
keputusan yang mengendalikan cipratan jatuh cinta yang mulai menyapa. Lesu
begitu saja renggas tanpa mengucap salam. Bahan bakar baru siap mengisi tanki
yang nyaris mengalami kelangkaan karena harga jual psikologis yang terlalu
tinggi. Menghabiskan bulan kemerdekaan dengan panjangnya lipatan senyum yang
mengalahkan panjang sungai Barito.
Betapa
aku telah jatuh cinta mentah-mentah padanya yang ayah banggakan. Belumlah jua
aku mengenalnya secara fisik dan teritorial. Gambaran terlontar dari kecapan
mulut ayah begitu hebat ku terima, meski sebelumnya kuacuhkan. Bagai drama
remaja Playful Kiss, Itazura Na Kiss, They Kiss Again atau apapun itu namanya.
Anganku sepertinya sebentar lagi mulai mengikuti skenarionya.
Dia itu anaknya pinter. Sering ikut lomba dan dapat
uang dari sekolah. Motor yang dia beli adalah duitnya sendiri. UTS kemaren dia
sendiri yang tidak remedial Fisika.
Tentang
cerita yang tak gentar ayah tembakkan padaku. Tentang otak emas. Tentang
prihatin yang dia miliki. Tentang banyaknya siswa yang mengaku bodoh berguru
padanya, dibayar dengan pulsa. Tentang seorang laki-laki yang sedang ku candui
sekarang. Tentang dia yang membuatku cengo dua tahun lamanya.
Mengapa
hanya dari semua itu aku berani berperasaan? Aku tidak mengerti dan tolong
jangan menyuruhku untuk mengerti dan mencari jawaban. Karena mungkin cinta
adalah kabut perasaan yang sukar untuk menembus logika manusia bahkan sekelas
Adolf Hitler. Ayah yang membanggakan pemuda 86 itu selalu on fire pabila mengisahkannya, bagai guru
matematika yang mengejarkan persamaan linier dua variabel pada mereka yang haus
remedial. Sudah jelas gempuran yang telah berumur setengah tahun itu, aku
tersungkur haus dihadapan kisah fantastisnya. Seandainya saja takdirku
benar-benar mengikuti skenario playful kiss. Seandainya saja pribadi Seung Jo
sama seperti pribadi Rizal. Dimana Oh Hani adalah aku yang mendapatkannya.
Seandainya saja cinta Oh Hani yang tidak mampu Seung Jo selsaikan dengan
rumus-rumus yang berjejer rapih di otaknya adalah aku.
Miya,
Rizal hanya kenal Miya. Saya yakin dia hanya mengetahui Miya. Sebab nama
panjangku ia tak kenal. Miya, hanya catatan berbentuk nano dalam otak
jeniusnya. Meski Rizal diotakku mampu mengusir sel-sel jahat. Rasanya dia
menyeluruhi tempat yang Tuhan ciptakan dalam otakku. Aku hanya kenal Rizal.
Rizal hanya mengetahui Miya.
Entah
aku menjadi gadis dengan nomor antrean keberapa pada siswa yang mengikuti
olimpiade tiga kali itu. Kerjaanku hanya menebak-nebak rupa jenius miliknya,
memandangi tiga pesan singkat yang mengantarku mimpi indah dan merajut kisah di
angan-angan.
Mengingat
jejak kalimat semalam. Menyambut pagi dengan dia yang mulai mengusai hati.
Mengeringkan
bekas oli yang tercecer dijalan. Membentuk remang wajanya di langit melalui
satu sentuhan, cinta. Dan Rizal menyempil manis mengikuti senyum pagi yang ku
sebarkan pada manusia yang sudah memberanikan diri menatap pagi. Bukan hari
pertama menjadi murid sekolah menengah atas. Semangat yang berdiri malu-malu di
pojok namanya mengalahkan semangat tempur angkatan perang Amerika. Kalimat apa
yang melebihi bahwa sebentar saja aku sangat mencintainya. Serupa matahari yang
dengan sinar indahnya mampu membangkitkan siapapun untuk menghirup udara dan
merasakan pancarannya. Rizal, yang tak kusangka. Berlian yang menyempit
diantara apartemen-aparteman langit ibukota, perumahan Pondok Indah, jejeran
toko kelas borjuis dan hiruk pikuk jalan Ciputat. Rizal, serupa angin musim
semi yang mengalir menyibak dingin salju. Serupa darah yang didonorkan pada
mereka yang membutuhkan. Peneduh kegamangan seorang gadis yang menatapi senja
yang hendak menghantarkan malamnya.
Rizal,
hanya melalui pesan singkat ombak rindu itu terselsaikan. Pesan yang seringnya
singkat namun melekat bagiku yang tunggal membacanya. Pesan itu akan berubah
jadi panjang pabila aku tanya tentang penjelasan fisika. Panggilan,
"Miya" yang teramat manis bagiku. Menjalari nadi. Melintasi
kerongkongan, tulang selangka, tulang belikat dan arveoli.
Entah
berapa banyak malam yang ku minta untuk dia dihadirkan dalam lelap malamku.
Menyapanya melalui benang mimpi. Melihat remang wajahnya yang mampu mematahkan
soal kimia. Dari tepi mimpi saja aku
sulit mendapatkan gambarannya. Rizal, pemuda 86 yang pernah dibanggakan ayah.
Suatu
saat dulu, aku menyesalinya. Mengapa aku tidak tergiur dengan kisahmu sejak
awal ayah menyajikannya. Seandainya, bisa mengenalmu lebih awal.
Dengan
kesadaran yang aku miliki, aku tidak boleh berlebihan terhadapmu,
mengaharapkanmu melihatku, berkhayal untuk diriku dan kamu. Namun, kisah yang
ayah berikan terlalu manis untukku buang hingga aku pernah mengatakan pada
seorang teman bahwa tidak masalah jika aku dijodohkan denganmu dan seandainya
tidak dijodhkan bertekad untuk berjodoh denganmu. Pemalu, pemuda 86ku. Dia
pemalu, persis seperti perawan sedang ditelanjangi pandangan oleh laki-laki.
Disuatu
maghrib itu, entah apa yang mendorongku. Ayah, aku dan ade berjalan melewati
gang yang sebetulnya tidak persis seperti gang. Lampu bohlam 15 watt yang
menerangi sukses membuat kabur mata minus ini saat di depan warung kecil yang
dari jauh terlihat dua orang sedang duduk, yang satu memakai topi dan yang lain
adalah bapa muda berkaos coklat muda dan saat kita semakin dekat, pemuda
bertopi itu berdiri tanpa kata. Ayah melempar kode bahwa dia Rizal. Topi hitam,
kaos hitam, celana levis selutut dan sendal yang samar-samar ku lihat juga
hitam. Mungkin dia terkejut dan segera masuk rumah saat mengetahui ayah membawa
aku melewati dirinya hingga sepulang dari rumah penjual pulsa di belakang
warung tadi. Rumahnya di depan samping kiri warung itu. Kontrakan ayah dan
rumahnya hanya dipisahkan jajaran Rumah yang sederhana, abu-abu, memanjang.
Catatan kecil dalam ingatan. Bohong! Itu tidak kecil. Oke besar. Teramat besar.
Aku
bagai menggelembung memenuhi raya hanya dengan memikirkannya. Cerianya
mengalahkan orang gila pasar Minggu. Aku mungkin autis. Sibuk dengan pikiranku
tentang Rizal. Memiliki dunia sendiri, aku dan Rizal. Cukup!
Bagai
embrio yang akan berubah menjadi janin dan dalam sembilan bulan akan
meneriakkan salam lengkingnya pada dunia. Namun, aku tidak mau menatap keluar
jika dengan menjadi embrio saja membahagiakan seluruh jagat hati yang pernah
aku miliki. Pemuda 86 yang nyaris tnpa cela terjun kotak merah muda.
Waktu
berdemo anarkis. Karena aku telah kehilangan banyak jam hanya dengan
memikirkannya dan menimati panggilan manisnya. Rizal, pemuda bergelar cerdas
itu telah meracuni masa SMA-ku dengan rumus persamaan kuadrat pesonanya yang
sukar ku jelaskan dengan kosakata Bahasa Jerman. Rizal, pemuda bergelar cerdas
dari ayahku.
Juni
yang memilukan. Aku menyebutnya begitu. Berhubungan dengannya meski hanya
dengan saling mengirim pesan. Ada hal-hal yang aku hindari. Menanyakan tentang
asmara salah satunya. Tidak apa jika aku mengajukan hal paling bodoh yang anak
umur 8 tahun saja bisa menjawabnya daripada harus menanyakan itu. Waktu itu,
haram bagiku untuk agresif kecuali atas perintah ayah.
Tsunami
air mata tumpah dibulan dengan nomor urut enam itu. Entah apa yang mendorong
Rizal mengirimkan itu. Namun rasanya dia mempunyai satelit. Aku sedang terpuruk
saat itu. Memojok pada dinding kamar disertai pikiran yang melawangi jangat tak
karuan.
Semua orang mempunyai impian
yang ingin dia capai dengan berbagai cara. Mereka semua berambisi dengan
latarbelakang dan cerita yang berbeda. Tidak ada orang di dunia ini yang tidak
menginginkan cita-citanya terwujud. Namun, kadang Tuhan menyediakan jalan yang
lebih indah. Tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud. Kamu boleh saja
berambisi dengan semangat tinggi. Namun, bukan kita yang menentukan. Jangan
pernah putus asa Miya.
Tidak ada gunanya berputus
asa. Jangan pernah putus asa!
Mungkin
itu kali pertama Rizal mengirimkan teks yang panjang selain pembahasan fisika
dan matematika. Dengan bodohnya aku menjawab "iyaa, aku sering kaya
gitu". Bodoh!! Kenapa tidak kutanyakan dia kenapa? Sedang ada masalah apa?
Pesan
itu datang saat malam Senin. Setelah ku tenangkan pikiran. Ku telisik lagi.
Ternyata apa yang dikatakan ayah memang benar. Dia hendak memberi tahu. Rizal
sedang risau. Dia butuh teman. Dan aku yang linglung tidak menyadarinya!
Kabarnya
Rizal diterima di salah satu universitas berjas kuning melalui SNMPTN. Namun
dia tidak membayar biaya daftar ulang dan tidak mengisi data. Dia tidak
mengabarkan pada ayahnya mengenai daftar ualng tersebut. Ayahnya marah.
Menangislah hati ini. Sholat isya ku lakukan agar Rizal tidak benar-benar diblack list atau kalaupun dia harus mengikuti
tes tulis dia pastikan dia lulus dan dengan keyakinan 98 aku yakin dia bisa.
Dia butuh teman bicara. Buka dalam hal membicarakan reaksi kimia, teori
Archimedes ataupun tata nama ilmiah. Si jenius hendak memberi tanda.
Pesan
terakhir. Dia menghilang dari peredaran baik ayahku maupun ponsel Nokia 3tahun.
Aku
dan dia bagai sebuah permainan zombie.
Dia sudah berkali-kali mendapat trophy sedangkan aku memasuki level dua saja
ngos-ngosan. Mungkin dia juga tau ini dari cerita ayahnya. Aku memilih jurusan
yang menjadi anak tiri dimasyarakat. Sejalan dengan aku yang disisihkan dari
cela otaknya, kalah saing dengan rumus integral dan cosinus bersaudara.
Aku
tak pernah merasa setingkat dengannya bahkan dua tingkat dengannya dalam
berbicara. Namun, kelemahan Rizal mulai bisa kucium. Sayangnya, kelemahan itu
kalah saing.
Bulan
bulan setelah itu tidak banyak yang berubah denganku. Dia tetap sama. Berdiri
gagah disela rumus Personal Pronomen dan Imperativ Satz. Berkembang dalam
sejarah sungai Eufrat dan Tigris. Kokoh dalam kurs dan perdagangan
internasional. Mengapit dalam indeks permintaan pasar. Masih berjungkat-jungkit
ria di mainan SD sebelah sekolah. Masih menyapa malam bersama sinetron remaja
yang sukses menjilat pemirsa bersama cerita yang sulit untuk ku telaah. Ku
kabarkan dengan semangat Kartini pada mereka yang ku sebut teman bahwa aku
menyukainya. Mengaguminya. Menceritakan dengan gempuran dahsyat sampai meludahi
mereka aku tak menyadarinya. Wahai Rizal. Harum namamu yang kusebut rindu.
Dia
pendiam. Si jenius yang pemalu. Aku memilih dia daripada Lee Donghae saat
mereka memakai topi yang sama berwarna abu-abu. Aku seruis! Karena dia sudah
menjatuhkan bom atom di hati yang merah katanya. Membuat aku tersipu malu pada
burung-burung yang mengelilingi lapangan bulutangkis sepulang dari Ragunan.
Tubunya yang terbalut cahaya sore mampu mengaburkan mata dan merambatkan aliran
listrik ditubuh yang tak yakin aku bawa sampai dikontrakan ayah.
Mungkin
ini benar-benar cinta buta. Mungkin aku kalah cerdik dari PSK. Mereka
menawarkan diri melalui media. Langsung saling mengirim pesan dan mengirim
suara-suara racun pembawa neraka.
Suatu
siang dia menanyakan apakah aku mempunyai akun Facebook, saya jawab iya. Dia
meminta nama akun saya, saya beri. Namun dia meninggalkan pembicaraan saat ku
tanya apa nama akunnya. Rizal hanya menjawab dia mempunyai akun Facebook namun
tidak memiliki Twitter. Twitter dia bilang ribet. Orang pinter mungkin tidak
mempunyai twitter. Namun, menurut aku twitter tidak seribet menyelesaikan soal
perpangkatan.
Perkenalan
dan perpisahan yang terlalu dini. Aku bagai marmut yang asik menghabiskan waktu
pada roda-roda kecil yang berputar. Terlalu asik menikmati cinta semu, sesemu
angin shubuh yang menerjang bukit. Terus berputar dan sukar untuk mengganti
rodanya. Tidak ada habisnya berperasaan padanya. Berulang dan terus seperti
itu. Mungkin aku penghianat yang ulung. Mumutuskan untuk menyudahi. Namun, aku
kalah. Aku menengadahkan tangan lagi saat angkutan kota menawarkan sejumput
kenangannya. Mengurangi perasaan yang katanya cinta. Namun, hari berikutnya
cinta itu bergerilya bagai pasukan Diponegoro dimedan perang.
Menerbangkan
diri dalam pekatnya polusi Ibukota, memastikan bahwa dia belum memindahkan
diri. Lagi-lagi terasingkan di daerah yang tak mungkin terdeteksi oleh bolpen
ajaibnya. Namun, apakah dia juga mencariku? Walau hanya memikirkan dimana aku
berada sekarang. Entahlah. Aku hanya menelan knalpot bus antarkota dari Stasiun
Lebak Bulus.
Kabarnya
banyak gadis yang menyukainya. Merayunya dengan bedak mahal dan parfum luar
produk luar negri. Berseragam uang dan fashion
terkini. Aku bukan bandingannya. Aku hanya tahi cicak yang menempel indah di
telapak sepatu feminim mereka. Gadis biasa yang akan terlihat sangat biasa atau
bahkan kastanya dibawah biasa bahkan saat berdampingan dengan orang lain di
kota besar. Aku enggan merias diri untuk sekedar cuci muka. Cuci muka pun tidak
memuaskan, tetap saja kusam.
Aku
mempunyai ambisi yang besar untuk
mendekati Rizal. Mencuri rahasia dapur yang dia miliki hingga bisa menjadi
pintar. Mengenali pribadi orang jenius sepertinya. Mempermainkan perasaan
sendiri. Seperti tornado yang menhantam sebagian daerah Amerika.
Dengan
satu nama, Rizal. Cukup untuk mengenang tanpa jeda.
Aku
mengingat hal-hal kecil tentangnya. Tak pernah lupa dengan lirik pesan yang
pernah ia kirimkan padaku. Mampu menggambarkan daerah tempat tinggalnya.
Jalan-jalan mana saja yang bisa menunjukkan rumahnya. Bus dan kendaraan umum
apa saja yang aku dan keluargaku tumpangi sewakt liburan dan ayahku mengontrak
dikontrakan pamannya. Wajah dan nama sebagian keluarganya. Namaya kedua
adiknya. Tempat biasa dia bermain sepak bola.
Andai
semua pesan yang dia kirimkan tidak pernah aku hapus. Namun, memoriku masih
cukup jelas mengingat setiap kata-kata itu. Gaya ketikan yang dia gunakan.
Pesan yang menunjukkan kemarahan karena aku tak kunjung mengerti. Saat dia
menanggapi obrolan dengan tertawa. Dan itu pertama kalinya dia mengirim pesan
hahahah. Momen-momen moodbooster yang
dia ciptakan diberbagai tempat. andai apa yang aku hayalkan terwujud. Andai dia
dia juga ikut dalam rombongan ziarah ke Gunung Jati itu. Andai!
Aku
merindukan getaran halus itu. Saat dimana dia duduk di pinggir lapangan
bulutangkis. Mengenakan kaos merah, topi abu-abu, celana jean yang samar
kulihat dan sandal hitam. Terbungkuk menghadap matahari sore memegangi ponsel
yang tak ku ketahui produsennya. Aku mengingat percakapan yang aku dan ayahku
bicarakan sekembalinya dari Ragunan.
Tahun
berganti sebanyak dua kali semenjak Juni yang memilukan. Aku tetap saja tidak
mengetahui nama ayahnya dan nama lengkapnya. Hanya pekerjaan ayahnya. Dan hanya
Rizal yang saya tau. Satu nama pelengkapnya pernah tersampaikan oleh seorang
ibu muda kepadaku. Dia bilang cari saja nama itu di Facebook namun sepertinya
dia lama tidak membuka Facebook. Aku melakukannya pemirsa. Demi apa? Demi satu
nama pelengkap yang menaungi perjalanan biodata dan identitasnya. Hasilnya
sungguh! Sungguh tidak sesuai dengan yang digambarkan selama ini. Nama lengkap
yang coba ku gabungkan dan ku obrak-abrik pemiliknya adalah mereka yang alay. Apakah Rizal diam-diam alay?
Aku
pernah menjejalinya dengan pertanyaan yang berbondong-bondong memasuki kotak
masuknya. Hanya ingin menyungkil sedikit tentang rahasia jeniusnya. Bagaimana
dia belajar? Kapan dia belajar? Apa yang dia suka? Apa hobi yang dia suka?
Bagaimana dia sekolah? Dan ratusan daftar lainnya. Sungguh aku ingin mengenal
sosoknya. Jenius yang prestisuis di hati Miya yang ambisius.
Pertanyaan-pertanyaan
yang sudah mempunyai daftar tunggu itu harus rela terpatahkan oleh waktu yang
memisahkan jaringan rasa penasaran bahkan dalam mimpi Rizal selalu
membingungkan. Diam namun kadang-kadang berekspresi meyeramkan, merindukan dan
menyejukkan.
Rizal.
Berapa kalipun ku sebut namanya. Menyanyikannya dan meneriakkannya dengan
manja. Ku pastikan bahwa aku tidak mengenal apa itu bosan. Namanya sudah
berteman dengan usus dua belas jari dan tulang dudukku.
Doktrin
Laissez faire milik Adam Smith mungkin
sedikit menggambarkannya. Karena hati umpama pasar, siapa meminta dan siapa
yang menawarkan. Hingga menghasilkan keseimbangan yang mempertemukan keduanya.
Sayangnya aku hanya terus meminta kenangan akan Rizal tetap menari dengan ria
tanpa ada penawaran dari pemiliknya. Gadis lugu seperti apa yang sedang dia
pikirkan? Seberapa sering dia melupakan teori-teori ilmu pengetahuan dan
membuka mata pada gadis-gadis yang sedang menunggu angkutan kota? Apa yang dia
makan dihari libur? Apa dia gemar bercerita pada buku? Sungguh aku mencandui
anak pertama dari tiga bersaudara itu. Betapa ayah terlambat untuk mengentaskan
aku dari perasaan abstrak ini. Sekalipun aku sudah berada di daratan, tetap
saja aku masih basah kuyup tak tau kapan akan mengering.
(28 April 2015 17:29 WIB)

Komentar
Posting Komentar