Langsung ke konten utama

Putus (Lelaki)



Hari ini kita putus
Maaf atas pertengkaran semalam
Tapi aku tak yakin perasaanku padamu juga akan putus
Sebenarnya, tanpamu keadaan semakin kelam

Kamu tau aku pria yang patuh pada rencana
Tapi aku tak paham dengan takdir asmara
Nuansanya sukar, asmaraku pulang tanpa pelana
Terbakar, entah lari kemana

Aku keras kepala dengan tetap bersikap elegan
Nyatanya aku malah terus deg degan
Putus, ku coba sikapi dengan biasa
Tapi piasnya hampir buatku nelangsa

Beri kisah kita sedikit waktu
Mohon jangan dekat dulu dengan orang baru
Karena hatiku belum siap menjadi batu
Biarkan semua tetap membiru

Sebelum keadaan jadi berantakan
Ada ungkapan sayang yang gengsi aku utarakan
Tapi putus, kisah kita jadi urak-urakan
Sayang, segala tentangmu masih aku simpan

Dulu aku terlalu cemburu
Panasnya mendadak menjadikanku pemburu
Tapi aku malah buatmu terisak tangis
Disitu sesal menghantam, harusnya aku bersikap manis

Sekarang, aku pria dengan penuh ketakutan
Kala hujan, siapa yang akan memayungi
Siapa yang akan membuat kehangatan
Siapa yang buat weekendmu seindah pelangi

Ada sesal
Ada marah
Banyak rindu

Jatinangor. Selasa 13.10.2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

20 Tahun

20 tahun Aku takut kematian Aku takut melihat ibuku berbaju kafan Aku takut bapaku tiada, ibuku sama siapa Aku takut sendirian, ditinggal Imut ke surga 20 tahun Aku takut tidak bisa menghidupi mimpi sendiri Aku takut tidak bisa berbakti Aku takut menjadi abu Aku takut menjadi bukan diriku 20 tahun Aku takut lupa agama Lupa Tuhanku siapa Aku takut lupa bersyukur Padahal Allah sudah begitu adil dan akur 20 tahun Aku takut membuat keluarga kecewa Tidak bisa menghadirkan bahagia Lupa pengorbanan mereka Tidak bisa berbakti pada mereka 20 tahun Aku takut gila Problema mendera menggelantungi nyawa 20 tahun Aku banyak merindui seseorang bukan manusia 20 tahun Menginjakmu, nafasku berat. Il-miyah

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu