Langsung ke konten utama

20 Tahun


20 tahun
Aku takut kematian
Aku takut melihat ibuku berbaju kafan
Aku takut bapaku tiada, ibuku sama siapa
Aku takut sendirian, ditinggal Imut ke surga

20 tahun
Aku takut tidak bisa menghidupi mimpi sendiri
Aku takut tidak bisa berbakti
Aku takut menjadi abu
Aku takut menjadi bukan diriku

20 tahun
Aku takut lupa agama
Lupa Tuhanku siapa
Aku takut lupa bersyukur
Padahal Allah sudah begitu adil dan akur

20 tahun
Aku takut membuat keluarga kecewa
Tidak bisa menghadirkan bahagia
Lupa pengorbanan mereka
Tidak bisa berbakti pada mereka

20 tahun
Aku takut gila
Problema mendera menggelantungi nyawa
20 tahun
Aku banyak merindui seseorang bukan manusia
20 tahun
Menginjakmu, nafasku berat.

Il-miyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu