Langsung ke konten utama

Pemotor

Pemotor adalah penduduk yang maha
Santai, cepat, libas, taktik, romantik, rumah sakit
Pemotor adalah keegoisan yang nyata
Straight, lesbi, homo, bahkan makhluk hemafrodit
Ruang yang disisakan sedikit bahkan untuk menguap
Pemotor adalah pengecut, mereka memilih lari sekencang-kencangnya saat tidak ada bunyi knalpot lain di jalan
Warga negara yang rendah kesabaran adalah pemotor, tidak terima macet, melancarkan taktik libas kanan libas kiri, maju tak gentar
Pemikir yang licik adalah pemotor, jalanan sempit adalah cara kabur dari keramaian
Lincah di jalan, hobi mengunjungi pengadilan
Dan aku bukan pemotor
Ketakutanku sangat nyata saat menghadapi banyak kendaraan
Pikiranku tidak berfungsi, apakah mengambil jalan ini atau libas yang itu
Tanganku gemetar memegang kendali
Padahal sepeda motor adalah hidup
Dalam hidup spesies pengendara adalah ujian hidup yang sesungguhnya,
Cara yang diajarkan adalah santai bermotor, namun aku kalap ketika ada pemotor yang nafsu mengecilkan waktu tempuh,
Dadaku bergemuruh ketika ada pemotor yang tiba-tiba parkir tanpa permisi,
Pikiranku tidak berada di tempat ketika ada pengendara yang tiba-tiba berbelok dan tidak menyalakan lampu,
Aku bisa menaikkan gas saat jalanan naik, tetapi linglung saat sudah di atas , mulai lagi jalanan yang normal
Aku membayangkan luka-luka mendiami kaki dan tangan, ketika jalanan turun menyampaikan selamat datang

payah .

9.7.2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Dari Twitter

In The Club

Kamu berada di dalam club membawa diri tapi kamu adalah bagian dari suatu kumpulan untuk sebuah pesta, penampilanmu terlalu biasa seperti tidak punya modal, seperti hanya punya rasa penasaran dua kali kunjungan, kau tidak membawa minuman yang lezat musik di dalam club, malah membuatmu cemas kamu tidak bisa menari dengan lepas badanmu berkeringat khawatir melihat ekpresi pengunjung lain ; “ahh, mereka sudah menyelamatkan rasa takutnya dan mampu menyanyi bersama” lagu yang dj putar kenal iramanya, tapi tak bisa menebak lebih jauh kamu tidak menikmati diri sendiri, pesta adalah petir “mereka bisa menikmati lagu karna mereka sudah berusaha. aku belum melakukan apa-apa dan tidak tau apa pun tentang club ini. konten hari-hariku adalah kosong“ kasian, terdampar sendirian padahal kamu datang bersama teman-teman. minuman apa yang harus dibeli, berapa harga makanan di club, kemana aku harus pergi jika aku pengen pipis, riasan ku sia-sia; aku tak punya apa apa pelayan club mendiktekan...