Langsung ke konten utama

Biru


  • *baca dari bawah*

  • O Ren srg dpt panggilan mengelap. Pelanggannya makin tdk terjumlah. Padahal O Ren hy menjual pemandangan standar. Tp tiap pelanggan beda.

    O Ren sbuk jd hnya 15' mendengarkan cerita Biru. Dia harus kembali bekerja. Kerjaan modern yg ia puja, mengelap keringat peluh.

    Biru cerita kebenciannya kpd O Ren. O Ren hanya memberi anggukan. Krn dulu ia prnh merasakan, malah srg dipjokkan&jadi terdakwa.

    Warna lain u/ tamunya. Ia hafal keadaan tamu2nya dg tnpa kamus dan panduan apapun. Tamu memanggilnya Prof Kebiruan. Tp biru benci itu.

    Dia bukan dr kasta biru.Hny kaum abangan biasa.Tp sering berhayal menjadi kaum biru. Agar dia bs menciptakn wrna lain.

    Dia tdk ingin jtuh dlm lembah biru.Alasannya krn dia tdk bs mlihat bayangan diri&malah tenggalam dlm rsa kacau&mericuhkan.Dia benci membiru.

    Namanya banyu biru. Tp dia ga berwarna biru. Dia cuman suka biru. Krn dia bs menyelami perasaan seseorang. Tp dia benci jk sdg dlm kebiruan.

tulisan 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

20 Tahun

20 tahun Aku takut kematian Aku takut melihat ibuku berbaju kafan Aku takut bapaku tiada, ibuku sama siapa Aku takut sendirian, ditinggal Imut ke surga 20 tahun Aku takut tidak bisa menghidupi mimpi sendiri Aku takut tidak bisa berbakti Aku takut menjadi abu Aku takut menjadi bukan diriku 20 tahun Aku takut lupa agama Lupa Tuhanku siapa Aku takut lupa bersyukur Padahal Allah sudah begitu adil dan akur 20 tahun Aku takut membuat keluarga kecewa Tidak bisa menghadirkan bahagia Lupa pengorbanan mereka Tidak bisa berbakti pada mereka 20 tahun Aku takut gila Problema mendera menggelantungi nyawa 20 tahun Aku banyak merindui seseorang bukan manusia 20 tahun Menginjakmu, nafasku berat. Il-miyah

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu