Langsung ke konten utama

Sang Ibu



Sang ibu berenang, melewati setengah bumi tanpa makanan


Tulangnya gosong, tak kenal hiasan

Ibuku bernyanyi, menghindari tetesan dengki

Dini hari rekat menemani, ibuku berpikir sampai pagi

Guyub diguyur kemaraunya, ibuku memanen air tumpah di jalan

Sang ibu berenang, tanpa teman
ibu berkelana, tanpa tahu apa itu lelah.


Jatinangor, 7 Juli 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu