Langsung ke konten utama

Adakah

Adakah aku sakit? Bagaimana jalannya untuk lepas?
Adakah aku tanpa sadar terus merenung? Pada dirimu yg hobi naik gunung
Aku tak bisa menari, karena lagu yang bagus mendekamku sunyi
Pernah merasa asing, antara kau yang nuansanya terlalu bising

Kepalamu pernah dalam pikiran, piawai membawaku tanpa kesadaran
Sekali aku mendapatimu bersama perempuan, hal itu aku paham karena kau rupawan

Kemarin lalu akan menjadi sedih jika aku benar-benar sendiri
Tanpa menuturkan sapa  pada teman yang nyaman aku kenali

Ada yang bilang, wanita itu pandai mencuri
Tidak buatku sendiri
Aku tidak tahu apa itu mencuri, faedahnya untuk apa

Pun caranya, aku takan paham

7.April 2016
um 19:36 Uhr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

20 Tahun

20 tahun Aku takut kematian Aku takut melihat ibuku berbaju kafan Aku takut bapaku tiada, ibuku sama siapa Aku takut sendirian, ditinggal Imut ke surga 20 tahun Aku takut tidak bisa menghidupi mimpi sendiri Aku takut tidak bisa berbakti Aku takut menjadi abu Aku takut menjadi bukan diriku 20 tahun Aku takut lupa agama Lupa Tuhanku siapa Aku takut lupa bersyukur Padahal Allah sudah begitu adil dan akur 20 tahun Aku takut membuat keluarga kecewa Tidak bisa menghadirkan bahagia Lupa pengorbanan mereka Tidak bisa berbakti pada mereka 20 tahun Aku takut gila Problema mendera menggelantungi nyawa 20 tahun Aku banyak merindui seseorang bukan manusia 20 tahun Menginjakmu, nafasku berat. Il-miyah

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu