Langsung ke konten utama

Adakah

Adakah aku sakit? Bagaimana jalannya untuk lepas?
Adakah aku tanpa sadar terus merenung? Pada dirimu yg hobi naik gunung
Aku tak bisa menari, karena lagu yang bagus mendekamku sunyi
Pernah merasa asing, antara kau yang nuansanya terlalu bising

Kepalamu pernah dalam pikiran, piawai membawaku tanpa kesadaran
Sekali aku mendapatimu bersama perempuan, hal itu aku paham karena kau rupawan

Kemarin lalu akan menjadi sedih jika aku benar-benar sendiri
Tanpa menuturkan sapa  pada teman yang nyaman aku kenali

Ada yang bilang, wanita itu pandai mencuri
Tidak buatku sendiri
Aku tidak tahu apa itu mencuri, faedahnya untuk apa

Pun caranya, aku takan paham

7.April 2016
um 19:36 Uhr

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu