Aku juga pernah ditinggal tanpa alasan, tanpa mengatakan
salam, tidak pernah memberi kabar, tanpa maaf, tanpa terima kasih.
Aku juga pernah merasakan sakit hati, yang gema nyerinya
sampai ke usus dua belas jari.
Aku juga pernah berada dalam tekanan, dengan alasan
melindungiku dari segala gangguan dan menjaga kebaikan.
Aku tidak pernah dikirimi pesan selama aku menghirup nafas.
"Sehat selalu" "Jadilah orang baik"
"Jadilah orang sukses" "Jangan menyerah" "Syukuri
hidupmu", petuah hangat yang selama aku hidup ingin sekali ku dengar,
darimu yang pernah menikahi ibuku.
Aku pernah diberi jalan hidup berupa kebohongan, dijauhkan
dari kebenaran.
Aku pernah tidak dianggap, meski semesta tau, akulah manusia
yang paling berharap.
Mungkin aku sekarang hampir dilupakan, tidak dikenal lagi,
sudah tidak diingat lagi atau bahkan dianggap mati.
Sampai sekarang aku tidak menghilang, tidak akan pernah
lari, karna Semesta kenal benar, aku manusia yang ingin dicari, oleh mu.
Ada mimpi-mimpi keji, ada bayang-bayang hidup malang, dan Semesta paham, aku manusia paling ingin
disayang.
Aku akan bersyukur sekali kalau aku mengenali wajahmu. Tapi
jalan kesitu ternyata lebih jauh dari jalan surga.
Setiap hari adalah fantasi. Isinya kamu akan menemuiku
dengan rasa dosa. Dengan air mata menumpuk di dada. Dengan rindu menggebu
berkobar biru. Tapi fantasiku sukar terwujud. Karena Fantasi negeri 1001 malam
lebih mudah diciptakan.
Aku tidak ingin menemuimu seperti malam berbentuk makam.
Aku suka menulis cerita. Bagaimana kiranya jalan kita
bertemu. Dengan jalan uang, dengan jalan kebohongan, dengan drama kahyangan,
atau dengan perih yang berdarah-darah.
Aku ingin melihatmu kecewa. Merana dan tersiksa karena telah
durhaka pada semesta.
Aku ingin kamu menangis tragis dan aku memandangimu sebagai
orang bengis, karna kamu telah meninggalkan luka pada gadis bumi yang manis.
Aku qkan benci mendengar hidupmu yang penuh hingar bingar
lampu bar.
Aku akan benci mendengar hidupmu sangat baik, dengan
pendamping yang cantik.
Aku akan puas mendengar hidupmu pelik, sepelik lukaku selama
aku bernafas.
Tapi Semesta tau, hati suciku punya rindu ingin bertemu.
Ayah.
Il-miyah
Sumedang, 2016

Komentar
Posting Komentar