Langsung ke konten utama

Aku (pernah)



Aku juga pernah ditinggal tanpa alasan, tanpa mengatakan salam, tidak pernah memberi kabar, tanpa maaf, tanpa terima kasih.
Aku juga pernah merasakan sakit hati, yang gema nyerinya sampai ke usus dua belas jari.
Aku juga pernah berada dalam tekanan, dengan alasan melindungiku dari segala gangguan dan menjaga kebaikan.
Aku tidak pernah dikirimi pesan selama aku menghirup nafas.
"Sehat selalu" "Jadilah orang baik" "Jadilah orang sukses" "Jangan menyerah" "Syukuri hidupmu", petuah hangat yang selama aku hidup ingin sekali ku dengar, darimu yang pernah menikahi ibuku.

Aku pernah diberi jalan hidup berupa kebohongan, dijauhkan dari kebenaran.
Aku pernah tidak dianggap, meski semesta tau, akulah manusia yang paling berharap.
Mungkin aku sekarang hampir dilupakan, tidak dikenal lagi, sudah tidak diingat lagi atau bahkan dianggap mati.
Sampai sekarang aku tidak menghilang, tidak akan pernah lari, karna Semesta kenal benar, aku manusia yang ingin dicari, oleh mu.
Ada mimpi-mimpi keji, ada bayang-bayang hidup malang,  dan Semesta paham, aku manusia paling ingin disayang.

Aku akan bersyukur sekali kalau aku mengenali wajahmu. Tapi jalan kesitu ternyata lebih jauh dari jalan surga.
Setiap hari adalah fantasi. Isinya kamu akan menemuiku dengan rasa dosa. Dengan air mata menumpuk di dada. Dengan rindu menggebu berkobar biru. Tapi fantasiku sukar terwujud. Karena Fantasi negeri 1001 malam lebih mudah diciptakan.
Aku tidak ingin menemuimu seperti malam berbentuk makam.
Aku suka menulis cerita. Bagaimana kiranya jalan kita bertemu. Dengan jalan uang, dengan jalan kebohongan, dengan drama kahyangan, atau dengan perih yang berdarah-darah.
Aku ingin melihatmu kecewa. Merana dan tersiksa karena telah durhaka pada semesta.
Aku ingin kamu menangis tragis dan aku memandangimu sebagai orang bengis, karna kamu telah meninggalkan luka pada gadis bumi yang manis.
Aku qkan benci mendengar hidupmu yang penuh hingar bingar lampu bar.
Aku akan benci mendengar hidupmu sangat baik, dengan pendamping yang cantik.
Aku akan puas mendengar hidupmu pelik, sepelik lukaku selama aku bernafas.
Tapi Semesta tau, hati suciku punya rindu ingin bertemu. Ayah.

Il-miyah

Sumedang, 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

20 Tahun

20 tahun Aku takut kematian Aku takut melihat ibuku berbaju kafan Aku takut bapaku tiada, ibuku sama siapa Aku takut sendirian, ditinggal Imut ke surga 20 tahun Aku takut tidak bisa menghidupi mimpi sendiri Aku takut tidak bisa berbakti Aku takut menjadi abu Aku takut menjadi bukan diriku 20 tahun Aku takut lupa agama Lupa Tuhanku siapa Aku takut lupa bersyukur Padahal Allah sudah begitu adil dan akur 20 tahun Aku takut membuat keluarga kecewa Tidak bisa menghadirkan bahagia Lupa pengorbanan mereka Tidak bisa berbakti pada mereka 20 tahun Aku takut gila Problema mendera menggelantungi nyawa 20 tahun Aku banyak merindui seseorang bukan manusia 20 tahun Menginjakmu, nafasku berat. Il-miyah

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu