Langsung ke konten utama

Hasil Gabut

💫 Die gelesene Bücher dieses Jahr 2021 💫
1. 3 buku dari Aan Mansyur dibeli di @jualbukusastra, bonus totebag putih 👌🏻.
2. Rich Dad Poor Dad dibeli dari Shopee Gramedia karena keterangannya stok tinggal 1 haha. Jenis agak lain dari buku-buku yang sudah dipunya atau biasa dibaca. Tentang motivasi keuangan dan bisnis.

4. Haruki Murakami salah satu penulis buku favoritnya Nicholas Saputra 🤣. Tapi bukan hanya karena itu aku beli, kayaknya pengen coba baca novel luar negeri lain selain Jerman. Tampaknya buku ini lagi paling direkomendasikan.
5. Buku yang dibeli lewat sistem PO di Twitter adalah bukunya Ivan Lanin. Ternyata ada sensasi tersendiri sewaktu nungguin bukunya dateng. Ini buku terbitan tahun 2020 dan dibaca pada tahun yang sama, tapi masuk daftar bacaan 2021 🤦🏻‍♀️. Males untuk mengeditnya kembali.
6. Kalau ada rezeki lebih, Amin. Pengen beli Ronggeng Dukuh Paruk yang bukunya bener, asli. Yang aku punya sekarang penampilannya rada ganjil gitu. Jarak tulisan paling atas dengan bodi bukunya terlalu sempit jadi keliatan aneh. Udah ada perasaan gak enak pas beli ini lewat toko di shopee. Eh bener aja 😭.
7. 2 seri buku puisi terjemahan Agus Sarjono-Berthold Damhäuser lainnya masih di wishlist 🥺.
*mencari suasana untuk tulisan kemarau*
8. Setelah lelah menanti giliran membaca di Ipusnas akhirnya memutuskan membeli Laut Bercerita. Ini dibeli saat war 12.12 kalo gak salah, berharap dapet yang harga 50rb di ofc store Gramedia di Shopee 🥲. Dapetnya yang harga 80an lewat Gramedia Merdeka di Shopee juga, alhamdulillah masih dapet.

Ini daftar bacaan tahun 2020. Diliat-liat temanya sejarah-histori sejarah yaa. Nein, ini beberapa aja, sisanya lupa dan mager 😌.
1. Cerita dari Digul. Disitu tidak ada cerita bahagia.
2. Butuh beberapa kali membaca supaya ngerti tulisan Tan Malaka. Hebat orang-orang bisa paham tulisan-tulisan beliau.




Catatan:
Sudah ada ulasanku di Goodread untuk beberapa buku.

Ucapan Terima Kasih:
Rezeki dari Allah
Canva
Waktu luang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Dari Twitter

In The Club

Kamu berada di dalam club membawa diri tapi kamu adalah bagian dari suatu kumpulan untuk sebuah pesta, penampilanmu terlalu biasa seperti tidak punya modal, seperti hanya punya rasa penasaran dua kali kunjungan, kau tidak membawa minuman yang lezat musik di dalam club, malah membuatmu cemas kamu tidak bisa menari dengan lepas badanmu berkeringat khawatir melihat ekpresi pengunjung lain ; “ahh, mereka sudah menyelamatkan rasa takutnya dan mampu menyanyi bersama” lagu yang dj putar kenal iramanya, tapi tak bisa menebak lebih jauh kamu tidak menikmati diri sendiri, pesta adalah petir “mereka bisa menikmati lagu karna mereka sudah berusaha. aku belum melakukan apa-apa dan tidak tau apa pun tentang club ini. konten hari-hariku adalah kosong“ kasian, terdampar sendirian padahal kamu datang bersama teman-teman. minuman apa yang harus dibeli, berapa harga makanan di club, kemana aku harus pergi jika aku pengen pipis, riasan ku sia-sia; aku tak punya apa apa pelayan club mendiktekan...