Langsung ke konten utama

Katamu

Bayang yang masih remang-remang,
Menyentuh wajahmu yang masih dalam bayang-bayang
Mencari kesombongan dalam kumparan bilangan,
Mengurutkan mimpi yang kau tunjukkan
Dunia ini kejam dimata kita,
Melangkah pada lorong tanpa nama
Dunia membenci kita katamu,
Menggunakan bidadari untuk melumpuhkanmu
Sekarang kau mulai terbang,
Membuka pintu yang sudah mengucapkan selamat datang
Kau bilang kuatkan saja iman dan mimpi,
Kau bilang kita kan kuat jika mempercayai janji

Kau tak mau ku ucapkan selamat tinggal,
Selaksa perih kerap kali ku temukan di ujung tatapanmu


Selama kau belum menyerah pada diri sendiri, ada banyak kemungkinan yang akan mendatangimu

dari 16 Februari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Mulut

Menutup mulut, Hatiku ribut Tahu semua yang tertutup Menutup mulut. Hatiku ribut. Sibuk menurunkan kabut. Sabuk paksa terbentang. Ambil posisi aman menantang. Ada nama gadis. Sumpah, jangan sodorkan! Bakal jadi bengis. Nafas jadi berantakan. Anggap aku tak berusaha. Dadaku lapang mengudara. Jadikan rinduku tak berbahasa. Lelaki sepertimu alpa luas samudra. Pujangga, Mampu buat hawa jatuh terpesona. Dalam hati menuntut jujur. Menutup mulut. Hatiku ribut -ilmiyah, 2016

Meski

Mendoakanmu, meski kau tidak tau diriku Aku tidak bisa nyekar, makan lebih penting Ibuku yang sangat baik hati, mengulang nasihat itu Mengingatmu Ternyata hanya segitu, kalimat yang mendadak muncul saat taraweh. Sudah ya, tidur dulu